Sebelumnya, Apa yang anda pikirkan terkait pekerjaan mulia seorang wanita? mungkin beberapa dari kita sudah terkontaminasi atau sudah tergiring bahwa pekerjaan mulia bagi seorang wanita adalah ketika ia mampu menyaingi laki-laki di segala lini kehidupan. teteapi berikut inilah pekerjaan mulia yang sesungguhnya itu.
Pertama, Melayani suami dan mewujudkan kasih sayang, penjagaan diri, dan ketenangan yang efek positifnya akan berimbas pada suami istri ataupun keluarga.
Kedua, melahirkan anak dan pekerjaan lain yang menyertai, seperti menyusui dan mengasuh yang dibarengi dengan haid, dan nifas. Semua pekerjaan ini khusus bagi kaum wanita yang sama sekali tidak akan bisa dibantu dan dilakukan oleh kaum lelaki. Inilah tugas abadi ibu. Dialah satu-satunya yang melahirkan manusia.
Ketiga, merawat anak, khususnya ketika masih kecil dalam usia pengasuhan. Karena dalam usia ini anak sangat memerlukan asuhan yang hangat untuk menimba ilmu dan nilai-nilai kasih sayang, ketenangan dan cinta kasih dari ibu agar perasaan anak terisi penuh hingga jiwa mereka tenang. Tidak ada seseorang yang lebih sabar melebihi seorang ibu terhadap anaknya hingga anak tumbuh dewasa. Allah menyematkan sifat kasih sayang dan karunia fitrah pada sosok ibu, karena sifat dan karunia itulah kehidupan ini berlangsung.
Seorang penyair berkata:
Ibu itu sekolahan,
jika kamu mempersiapkannya, maka kau telah mempersiapkan suatu bangsa yang memiliki nasab baik.
Keempat, menjaga rumah, harta, dan kehormatan suami. Tugas ini amat suci dan mulia. Suami memikul amanah dalam pekerjaan yang dilakukan, di manapun juga. Suami bekerja keras untuk memenuhi kehidupan hidup bagi diri sendiri dan keluarga. Seperti itu pula dengan istri yang juga memikul amanah, namun dengan tingkatan yang lebih utama saat suami tengah tidak dirumah untuk menjaga harta, rumah, dan kehormatan sang suami.
sungguh suatu posisi yang amat agung bagi seorang wanita karena dipersiapkan untuk menjaga dan menciptakan generasi manusia. Istri sangat berpengaruh terhadap suami, harta milik suami, dan jga keluarga. Tugas mulia ini dilalaikan oleh banyak sekali kaum wanita yang menilai pekerjaan suami lebih mulia dari pekerjaannya sendiri. Pekerjaan wanita tidak bersinggungan dengan hal-hal yang bersifat materi, namun dipersiapkan Allah untuk ia didik dan jaga. Ini sudah cukup membuktikan kemuliaan seorang wanita.
Disebutkan dalam Al-Mausu'at Al-Fiqhiyyah, pada dasarnya, tugas utama seorang wanita adalah mengatur urusan rumah tangga, menjaga keluarga, mendidik anak, dan melayani suami dengan baik. Nabi bersabda: "Dan wanita itu adalah pemimpin di rumah suami dan anaknya. Maka, setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang ia pimpin."
Wanita tidak dituntut untuk menafkahi dirinya sendiri. Nafkahnya menjadi tanggungan ayahnya atau suami setelah ia menikah nanti. Karena itu, bidang kerja seorang wanita adalah rumah tangga. Pekerjaan wanita adalah di rumah dimana pekerjaan itu setara dengan amalan mujahidin.
Meski demikian, Islam tidak melarang wanita bekerja. Wanita boleh berjual beli, menunjuk atau ditunjuk sebagai wakil, dan boleh berbisnis dengan harta yang ia miliki. Siapa pun tidak berhak melarangya, selama yang bersangkutan mengindahkan hukum dan etika-etika syari'at. ini juga nasehat untuk para laki-laki, dimana jangan sampai ketika ia menikah dengan seseorang yang sebelumnya adalah wanita yang sangat produktif, kemudia ia menjadi mandul karya ketika ia menikah. Maka hal ini sekali lagi akan menjadi pertanyaan kepadamu kelak. Wallahu A'lam

0 comments:
Post a Comment