Sunday, February 22, 2015

Kenapa Harus Wanita Shalihah.?


Istri sholihah merupakan perniagaan yang menguntungkan. Anda telah mengetahui bahwa pernikahan itu disyariatkan, diharapkan, dan disukai. Nah, perlu kita ketahui bahwa hanya dengan pernikahan kebahagiaan belum tentu sempurna; tujuan pernikahan hanya bisa dicapai jika sang istri adalah perempuan yang beragama dan berakhlak.

Istri adalah pasangan hidup; ibunya anak-anak, dimana mereka akan tumbuh dewasa sesuai dengan perangai dan tindak-tanduknya. Bahkan, dia memiliki pengaruh yang luar biasa bagi suami sendiri. Karena itulah, ada pepatah mengatakan, “Suami itu berdasarkan bagaimana agama istrinya.”Sebab, kecenderungan suami kepada istrinya membuatnya bersedia mengikuti dirinya; cintanya kepada istri membuatnya menyetujuinya sehingga tidak ada jalan untuk menyelisihinya, mengkritiknya, ataupun menghalanginya.

Laki-laki yang berakal sehat tentu hanya mau menikahi perempuan yang beragama, berakhlak, dan menjaga kesucian diri. Bahkan pernah seorang syaikh berkata, “Jangan kan lai-laki baik-baik, seorang premanpun pada dasarkan menginginkan istri yang sholihah.”

Abul Aswad ad-Duáli berkata kepada anak-anaknya. “Anakku, Aku telah memperlakukan kalian dengan sebaik-baiknya sejak kecil hingga dewasa, bahkan dari sebelum kalian dilahirkan!.”

Mereka menukas, “Bagaimana bisa ayah memperlakukan kami dengan sebaik-baiknya sebelum kami dilahirkan?”

Beliau menjawab, Äku memilihkan bagi kalian ibu untuk kalian yang tiada cela.”Jawabnya.

Abu Amr bin al A’la menuturkan, “Seorang laki-laki bertanya, “Aku tidak menikahi perempuan sebelum kilihat bagaimana kiranya anak-anakku darinya.”

Dia pun ditanya, “Bagaimana caranya?”

“Aku lihat bagaimana bapak dan ibunya, karena dia tergiring daripada keduanya atau salah satu dari keduanya.”, jawab beliau.

Kendati besarnya kedudukan istri yang shalihah dan pentingnya keseriusan dalam memilihnya, namun hal ini banyak ditelantarkan seperti; Adanya orang tua yang tidak menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki yang beragama dan berakhlak. Adapula laki-laki yang hendak menikah tapi tidak mengindahkan perempuan yang beragama dan berakhlak.


Menikah atau bisnis?

Masih ada saja laki-laki yang menjadikan keuntungan materi sebagai pertimbangan tanpa mempertimbangkan hal lain dalam merencanakan pernikahan, sehingga dia hanya mau berpasangan dengan perempuan yang kaya atau anak orang kaya. Adapula yang hanya hanya mengutamakan perempuan berkedudukan tinggi atau terkenal, karena itulah yang dia idam-idamkan. Juga ini, dan mungkin ini yang paling banyak oleh para laki-laki dijadikan alasan pertimbangan utama, yakni mereka hanya menikahi perempuan yang sangat cantik dan berpostur ideal. Apabila tidak berhasil mendapatkannya, maka ia beranggapan dunia sudah Kiamat.

Berbagai standar dan kriteria itu sebenernya tidak cukup. Karena itu hanyalah sudut pandang yang bersifat materi semata; tidak akan membuahkan kebahagiaan sejati. Oleh sebab itu, semua tadi tidak akan abadi karena segala sesuatu yang didirikan atas hal yang dapat berubah dan berganti pastilah akan lenyap. Kekayaan bisa lenyap; harta bendapun berubah-ubah. Betapa orang kaya menjadi miskin dalam sehari dan orang miskin yang menjadi kaya dalam beberapa saat saja.


Disorientasi Kebahagiaan

Ada kekeliruan besar yang melanda banyak orang; mereka menganggap kebahagiaan berdiri atas kekayaan dan harta benda. Sejatinya, harta benda semata tidaklah membuahkan kebahagiaan meskipun memang ia membantu mewujudkannya jika memang ada. Jika kebahagiaan itu tidak ada di hati yang paling dalam, yang timbul dari rasa senang, puas, dan perlakuan baik, maka harta benda tidak akan bisa mewujudkannya. Sebab kebahagiaan banyak bertumpu pada jiwa.

Bukankah banyak kita lihat banak sekali orang kaya yang tidak bisa menikmati kekayaannya karena ia tidak bahagia?. Namun betapa banyak kita lihat saudara-saudara kita yang papa, tapi kita dapat melihatnya bahagia. Pun begitu dengan kedudukan dan kecantikan.

Ada kisah menarik dari seorang ustadz kondang dari jawa, beliau bercerita dengan kocaknya ala cak lontong, begini kata beliau, “Sebuah penelitian mengatakan bahwa menikah dengan perempuan cantik itu lebih tidak awet daripada menikah dengan perempuan cantik.”
Seorang murid bertanya, “Kok bisa kiyai.?”

Beliau menjawab, “Begini le, kalau kamu menikah dengan perempuan cantik, maka cantiknya itu mungkin hanya bertahan tidak lebih dari 20 tahun, kemudian dia jadi jelek., nah kalau mau nikah dengan perempuan jelek, maka sampai mati pun tetep jelek.,” Kemudian disambut gelak tawa para muridnya.

Pelajaran yang bisa diambil adalah, banwa rupa itu bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan kebahagiaan rumah tangga, karena hal itu bisa hilang dengan sangat cepat. Bayangkan kalau hal itu menjadi dasar berumah tangga kita, kemudian kejadian yang tidak kita inginkan terjadi dan kecantikan itu hilang, maka kebahagiaan berumah tangga akan hilang.

Namun, bukan berarti kita para laki-laki kemudian tidak berkeinginan memiliki istri yang cantik. Kecantikan sendiri bukanlah suatu aib ataupun kekurangan ketika ia diikuti akhlak dan pemahaman agama yang baik. Maka jadilah ia cahaya diatas cahaya. Lagipula kecantikan tidak hanya terbatas pada wajah, warna kulit, bentuk tubuh, dan keindahan tubuh saja. Yang benar adalah kecantikan memiliki standarisasi lain, seperti selera, pemehaman, kesempurnaan akal, kecerahan jiwa, kehalusan rasa, dan kebersihan hati. Setiap standar ini memiliki peranan masingmasing dalam membentuk kecantikan seseorang.


Kecantikan sesungguhnya


Nazikul Malaíkah menegaskan, “Kecantikan adalah milik gadis bermata cerdas, berpenampilan sederhana, wajahnya meniratkan kasih sayang. Seolah-olah dia hendak mengasuh semua makhluk dan melimpahinya dengan perasaan-perasaannya yang luhur.” Dan kecantikan yang tajam dan segar ini tidak memerlukan biaya yang mahal; bisa dimiliki pemudi tanpa harus menghabiskan banyak waktu dan biaya. Ini adalah kecantikan yang tumbuh dari spiritualitas yang benar dan besar, pikiran yang merdeka lagi fleksibel, dan hati yang enerjik nan halus. Itulah cantikya kemuliaan akhlak, kesegaran, rasa takut tehadap Allah, kesucian, dan kebesaran jiwa.

Kecantikan ini tidak ada hubungannya dengan pakaian ataupun kilauan emas yang ada dilengan, leher, ataupun kupingnya, karena ia berkilauan melalui wajah yang dermawan dan mata yang penuh kasih. Ia juga bersinar lewat perasaan lepas yang tidak kalah kilatannya dari segala gemerlapnya emas. Inilah kecantikan, defisininya adalah kesederhanaan manusia dan fitrah yang berbunga mekar sebagaimana Allah ciptakan secara jasmani dan rohani.

Dari sini tersingkaplah bagi kita rahasia bahwa Islam lebih mengutamakan agama dibandingkan kriteria lainnya dalam soal pernikahan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahuanhu bahwa Nabi bersabda, “Wanita dinikahi karena empat hal; hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, dapatkanlah istri yang beragama, niscaya engkau beruntung.”

Yang dimaksud dengan hadits di atas adalah perempuan yang tumbuh besar dalam pakaian agama, kendati tidak begitu cantik, lebih diutamakan daripada perempuan lain yang tidak berhias agama meskipun kaya raya, berkedudukan, dan cantik.

An Nawawi Rahimahullahmenafsirkan hadits ini, “Artïnya adalah biasanya orang-orang mengejar perempuan yang memiliki empat karakteristik tersebut. Maka carilah dengan sungguh-sungguh istri yang beragama dan dapatkanlah ia, serta antusiaslah untuk hidup bersamanya.

Bimbingan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini juga mengarahkan kitauntuk memilih istri yang beragama, namun tidak harus hanya beragama saja tanpa ada sifat lain yang diidam-idamkan laki-laki. Beliau mengutamakan aspek agama tidak lain karena agama merupakan mata air segala kebaikan. Ia tidak akan berubah ataupun berganti. Istri yang beragama pasti menjaga suaminya dalam soal ranjang, harta, dan anak-anaknya. Dia juga berinfak kepada orang-orang yang membutuhkan dan tidak mampu.

Istri menyinari suami dengan kasih sayangnya dan cintanya; mematuhi segala perintahnya selama itu bukan maksiat; menjadi penolongnya ketika yang suami menghadapi kesuitan. Benar-benar merasa kesulitan yang dialami suaminya juga mengancam dirinya sendiri; diapun membuat suaminya merasa tidak sendirian dalam menanggung derita. Musibah terasa ringan bagi sang suami jika ada seorang istri yang ikut merasakan penderitaannya dan tulus dan amanah; mendoakannya, mendukungnya, danmemberinya saran.


Dari kesemua ini, tidak lain adalah agar kita umat muslim yang cerdas agar tidak lebih mengutamakan satu faktor lain dibanding faktor agama. Wallahu a’lam.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Kenapa Harus Wanita Shalihah.?

0 comments:

Post a Comment